10 November. Tanggal tersebut, 64 tahun yang lalu bukan tanggal biasa. Tanggal itu merupakan satu tonggak penting bagi bangsa dimana peristiwa yang terjadi di Surabaya saat itu menunjukkan nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia dengan mengabaikan ultimatum Inggris untuk menyerahkan diri atas terbunuhnya Brigadir Jendral Mallaby karena amarah rakyat Indonesia saat mengetahui konspirasi sekutu atas NICA untuk menguasai kembali Indonesia daripada merelakan kemerdekaan jatuh ‘kembali ke tangan NICA dan menjawab ultimatum tersebut dengan perlawanan besar-besaran. Perlawanan ini terus berlanjut baik dengan senjata maupun dengan negosiasi para pimpinan negeri seperti perjanjian Linggajati di Kuningan, perjanjian di atas kapal Renville, perjanjian Roem-Royen sampai akhirnya Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada tahun 1949.Dari fakta sejarah di atas bisa kita simpulkan bahwa ancaman pertama kemerdekaan Indonesia bukan hanya Belanda ingin menguasai kembali, namun sekutu yang dipimpin Amerika memiliki kepentingan tersendiri di Indonesia. Walau hanya berbekal beberapa pucuk senjata api dan selebihnya menggunaka bambu runcing, mereka tidak pernah gentar melawan penjajah. Berkat mereka, kini Indonesia telah bebas penjajahan berkat mereka, para pahlawan yang rela berkorban nyawa hanya demi mempertahankan kedaulatan Indoensia. Sebuah perjuangan yang dihiasi darah dan air mata dikarenakan semangat patriotisme yang membara di dada mereka.
Berikut satu tulisan dari mediaindonesia.com yang cukup menggelitik karena menyindir rasa kepahlawanan kita yang terlanjur tidur lelap.
Kini kita tidak terbiasa untuk berjuang sebab kita mewarisi sebuah negeri yang sudah merdeka. Kita terbiasa hidup dalam kenyamanan kehidupan yang semu. Sejak kita merdeka, memang negara ini tidak pernah membangkitkan semangat. Kita selalu dihantui oleh ketakutan jika berpartisipasi akan menghadapi masalah dari negeri ini. Maka yang terjadi kini adalah sebuah negara tanpa arah dan tanpa semangat. Perhatikanlah setiap anak-anak yang bersekolah. Mereka memang pergi dan pulang, tetapi tidak tahu mengenai apa artinya masa depan. Perhatikan mereka yang bekerja, tanyakan apa yang sedang dikerjakan, pastilah akan menjawab untuk kepentingan dan investasi keluarganya sendiri. Tanyakan pada para birokrat, apa yang sedang mereka lakukan, mereka pasti menjawab bagaimana supaya mereka bisa tetap memperoleh gaji tanpa harus repot-repot.
Setiap orang di negeri ini memang amat sulit memperoleh napas baru bernama semangat tadi. Bandingkan dengan mereka yang tanpa tedeng aling-aling berjuang, angkat senjata dan menyerahkan nyawanya 10 Nopember 1948 silam. Mereka bersedia menyerahkan apa saja, demi satu tujuan yang membakar semangat mereka, yaitu mempertahankan kemerdekaan negerinya. Sudah saatnyalah elit politik dan pemimpin negeri ini berhenti berbicara mengenai diri dan mereka saja. Sudah saatnya yang dibicarakan adalah bagaimana menyelamatkan negeri ini supaya bisa bertahan. Harus jujur kita akui bahwa fondasi semangat negeri ini sudah sangat rapuh. Yang ada adalah disharmoni, perebutan dan intrik politik serta korupsi. Bangsa ini harus dibangkitkan kembali semangatnya untuk bangkit dan mempertahankan ancaman yang datangnya dari dalam diri kita sendiri.
Negara tanpa pahlawan sama artinya negara tanpa kebanggaan. Jika sebuah negara tak memiliki tokoh yang bisa dibanggakan, negeri itu miskin harga diri. Ia bahkan bisa menjadi bangsa kelas teri. Karena itu, setiap negara mestinya memiliki tokoh yang disebut pahlawan.Pahlawan menjadi penting karena ia memberi inspirasi. Inspirasi untuk selalu memperbaiki kondisi negeri. Inspirasi agar bangsa ini terus bangkit. Dan, bangsa ini sesungguhnya mempunyai amat banyak orang yang memberi inspirasi itu.Persoalannya, apakah kita mampu ‘mengambil’ inspirasi dan kemudian secara terus-menerus mempunyai spirit untuk memperbaiki bangsa ini?
Mungkinkah kita siap berkorban seperti mereka jika kita berada dalam situasi itu? Di jaman sekarang ini, masihkah banyakkah dari kita semua yang sanggup memperjuangkan kepentingan umum (kepentingan bersama) dibanding dengan hanya memperjuangkan kepentingan pribadi masing-masing? Wallahu a’lam, mudah-mudahan saja masih banyak diantara kita yang menyadari betapa mulianya perjuangan pahlawan-pahlawan kita terdahulu.
Bebas dari penjajahan bukan berarti bebas dari perjuangan. Masih banyak yang harus dilakukan oleh kita untuk membangun bangsa ini diatas darah para pahlawan terutama untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa ini karena setiap generasi memiliki persoalan dan tantangan sendiri. Jika dulu mungkin buyut kita memekikkan heroisme dalam mengusir penjajah. Kini kita lihat berbagai masalah yang menggerogoti Indonesia, baik dari dalam maupun dari luar, yang dapat membahayakan kedaulatan Indonesia. Masalah intern kita kini tak lain korupsi, kemiskinan dan kebodohan. Korupsi, satu contoh masalah intern Indonesia yang tidak habis diperbincangkan. Korupsi seperti penyakit kronis yang menjangkiti para petinggi yang berlomba-lomba mengeruk harta karena haus harta dan tega memporakporandakan bangsa sendiri secara tidak langsung.
Jumlah orang miskin di negeri ini rasanya tidak kunjung berkurang, bahkan bertambah yang ada. Padahal konon katanya pemerintah terus berupaya menekan angka kemiskinan
dengan terus melakukan pembangunan di segala bidang. Jika kemiskinan tidak kunjung menurun, tentu rencana keberhasilan pembangunan tersebut harus dipertanyakan

Problem terberat bangsa saat ini yaitu rasa ketidakpercayaan diri. Tanpa rasa percaya diri, kita tidak akan mampu menghasilkan produk-produk unggul dan bersaing di era global. Tanpa kebanggaan akan bangsa sendiri, mungkin saja kita terinjak-injak di era persaingan karena hanya jalan di tempat, tidak kunjung maju

Mungkin contoh masalah ekstern Indonesia yaitu heboh pengklaiman Tari Pendet oleh Malaysia. Itu adalah bukti bahwa kita sering luput menjaga dan melestarikan kebudayaan sendiri. Kalau sudah ada pengklaiman, baru heboh untuk mempetahankannya. Bukan sekali terjadi hal seperti ini. Reog Ponorogo dan Angklung adalah satu dari sekian budaya kita yang pernah diklaim bangsa lain
Memperingati hari pahlawan merupakan satu momen tepat bagi kita untuk evaluasi ulang pemahaman kita akan arti pahlawan. Jika tidak, ia hanya akan menjadi seremoni hampa makna, tak membuat perubahan apa pun bagi negara. Negara seperti dibiarkan berjalan menuju bibir jurang
Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam hidup kita. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga. Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing. Mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas ditembak dalam perjuangan reformasi sewindu lalu adalah pahlawan, meskipun negara belum menobatkan mereka sebagai pahlawan.
Memang tidak mudah untuk menjadi pahlawan. Mungkin lebih mudah bagi kita menjadi pahlawan bakiak, yaitu suami yang patuh (takut) kepada istrinya. Atau menjadi pahlawan kesiangan, yakni orang yang baru mau bekerja (berjuang) setelah peperangan (masa sulit) berakhir atau orang yang ketika masa perjuangan tidak melakukan apa-apa, tetapi setelah peperangan selesai menyatakan diri pejuang.
Persepsi pahlawan bagi diri saya pribadi yaitu orang yang rela dan ikhlas memikul peran kecil –mungkin hina menurut pendapat segelintir orang- dan tak berharga untuk mengangkat kita menjadi orang besar atau untuk mencapai suatu tujuan besar, memperjuangkan dengan sungguh2 dan ikhlas apa yang dianggapnya benar untuk kebaikan banyak orang tanpa melukai orang lain serta tanpa mengejar imbalan yang berlebihan.. Kita sering luput akan kehadiran ‘pahlawan’ di sekitar kita. Seharusnya hari pahlawan dijadikan sebagai refleksi diri atas pengorbanan yang telah dilakukan para pahlawan demi kita dan bangsa ini juga untuk membuat kita semakin menghargai pahlawan di sekitar kita

Rasanya semakin lama, Hari Pahlawan nyaris terlupakan walau kita selalu memperingatinya setiap tahun. Kita makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan tersebut kini cenderung bersifat seremonial. Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Tanggal 10 November nanti kita akan merayakan Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pejuang pada masa silam. Kita bertanya pada diri sendiri apakah kita rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. Itulah pahlawan sekarang. (*)