Dulu, anggota galaksi bimasakti versi lama yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Pluto. Tapi tahun belakangan ini, mulai terjadi perdebatan tentang kedudukan Pluto sebagai planet. Hingga Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) ke-26 di Praha, Republik Ceko, yang berakhir pada 25 Agustus menghasilkan keputusan bersejarah dalam dunia astronomi dengan mengeluarkan Pluto dari daftar planet-planet di Tata Surya. Hal ini disebabkan Pluto tidak memenuhi salah satu dari tiga syarat untuk bisa disebut planet yang ditetapkan dalam resolusi sidang tersebut. Definisi planet yakni mengorbit Matahari, berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuk bulat dan memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih (tidak ada benda langit lain di orbit tersebut). Melihat definisi tersebut, Pluto tidak memenuhi syarat ketiga. Orbit Pluto memotong orbit Planet Neptunus sehingga dalam perjalanannya mengelilingi matahari, Pluto kadang berada lebih dekat dengan matahari dibandingkan dengan Neptunus. Pluto lalu masuk dalam keluarga planet kerdil (dwarf planet). Keluarga ini beranggotakan Pluto dan benda-benda angkasa lain yang mirip Pluto termasuk asteroid Ceres dan Charon

Menurut Direktur Observatorium Boscha, Taufiq Hidayat, keputusan tersebut sebagai puncak perdebatan ilmiah sejak awal 1990-an yang dipicu berbagai penemuan baru yang menimbulkan keraguan apakah Pluto masih layak disebut planet atau tidak. Menurut para astronom, karasteritik Pluto berbeda dengan planet lainnya. Bahkan komposisi kimianya lebih mirip dengan komet daripada planet.

Selain itu, perkembangan teleskop membawa pada penemuan berbagai benda langit yang masuk dalam kelompok Obyek Sabuk Kuiper (Kuiper Belt Object/KBO). Sabuk Kuiper adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga jarak 50 satuan astronomi (1 satuan astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni sekitar 149,6 juta km) dari Matahari. Beberapa KBO sangat menarik perhatian karena berukuran sama atau bahkan lebih besar dari diameter Pluto. Beberapa dari mereka memiliki satelit. Objek tersebut antara lain Quaoar, Sedna dan Xena (2003 UB313). Melihat bahwa objek yang lebih besar dari Pluto saja tidak termasuk planet, terjadilah perdebatan untuk menentukan pilihan. Pilihannya adalah memasukan Ceres, Charon dan Xena sehingga jumlah planet menjadi 12, atau mengeluarkan Pluto. Akhirnya pilihan kedua yang disepakati. Kesepakatan ini tidak dicapai dengan mudah. Keputusan itu akhirnya dicapai dengan voting setelah didahului terjadi perdebatan yang sangat sengit di kalangan astronom

Keputusan melepas status Pluto sebagai planet mengejutkan banyak pihak dan menuai berbagai kontroversi. Orang yang paling terpukul dengan keputusan ini adalah Patricia Tombaugh, janda Clyde Tombaugh, ilmuwan yang menemukan Pluto pada 18 Februari 1930. Beberapa pihak memprediksi debat mengenai Pluto tidak akan berakhir di sini. Alan Stern, ketua misi pesawat luar angkas NASA, New Horizon yang diluncurkan ke Pluto, Januari 2006 mengaku mereasa “malu” terhadap keputusan itu. Walau begitu, misi senilai 700 juta dollar AS dan baru tiba pada tahun 2015 tetap akan dilanjutkan

Reaksi emosional dari kalangan astronom mengenai Pluto disebabkan mereka memiliki kesan tersendiri terhadap Pluto sebagai planet terkecil dan terakhir ditemukan. Pluto memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya bentuk orbit yang sangat lonjong dan tidak sejajar dengan orbit planet lainnya. Selain itu, keputusan pencabutan Pluto sebagai planet membawa konsekuensi perubahan seluruh buku pelajaran, kamus astronomi, buku pintar dan ensiklopedia di dunia yang terlanjur mencantumkan Pluto sebagai planet ke-9

SEDNA

Para astronom yang terdiri dari Mike Brown (Caltech), Chad Trujillo (observatorium Gemini) dan David Rabinowitz (Universitas Yale) dengan mennggunakan teleskop Samuel Oschin di observatorium Palomar, San Diego telah berhasil menemukan planet kesepuluh yang di beri nama 2003 VB12 atau lebih dikenal dengan Sedna. Temuan ini terjadi pada 14 November 2003. Hingga kini, bebrapa astronom masih memperdebatkan apakah Sedna merupakan suatu planet atau asteroid atau komet dengan mempertimbangkan ukuran dan orbitnya dan definisi planet itu sendiri. Sedna dipertimbangkan sebagai planet karena orbitnya yang mengelilingi matahari dan memiliki kemungkingan berukuran lebih besar dari Pluto. Saat ini Sedna termasuk anggota KBO

Dengan menggunakan teleskop Spitzer Space, diketahui Sedna berada di awan Oort. Tepatnya tiga kali jarak pluto dan matahari yaitu sekitar 17 miliar km. Jauhnya jarak dari matahari menyebabkan permukaan Sedna bersuhu -240°C. Diameter Sedna sedikit lebih besar dari diameter Pluto yaitu 1.180-2.360 km. Untuk dapat melihat Sedna, dibutuhkan teropng dengan diameter dan panjang fokus yang besar serta CCD beresolusi tinggi. Posisi Sedna berada di barat daya dekat planet Mars dan Venus

Walau terdapat perbedaan anggapan terhadap Sedna, astronom sepakat bahwa Sedna adalah anggota tata surya kita. Hal tersebut ditunjukan dari orbitnya yang mengelilingi matahari dan jaraknya yang relatif lebih dekat dibandingkan jarak bintang terdekat yaitu Alpha Century (41,6 triliun km)

Ketidakseragaman definisi planet menimbulkan perdebatan apakah Sedna termasuk planet atau bukan? Seharusnya ada ketetapan definisi planet secara universal agar tidak terjadi perbedaan